Tampilkan postingan dengan label David Khursani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label David Khursani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juli 2012

Tiada Sesalku..

Sakit, untuk apa disesalkan. Penyakit justru harus dinikmati. kita lari pada suatu daerah yang sesak, sempit dan terisolir, tidak bisa juga kita menghindar dengan kenyataan Tuhan..

Sakit yang ku rasa, ku terpa dengan badai senyuman. Q juga tidak tertarik pada usaha medis tuk memulihkan. Karena Tuhan tidak tidur dikala siang ataupun malam.

Kalian pasti memandang sinis dari semua pengakuan yang ku goreskan.
Tapi apakah kalian pernah berpikir dari latar belakang sebuah pengakuan. Terbentur keluarga nan jauh diseberang, terbentur hasrat yang tidak mau merepotkan orang, terbentuk ekonomi yang belum mempunya ketetapan penghasilan.

Aku menangis tandaku mengadu, aku tersenyum tandaku menggerutu.
Tapi bukankah itu Tuhan yang mnyeru, sehingga terjalinlah rasa sakit dijiwaku.

Tiada sesal dihatiku, tiada gemuruh amarah yang mengebu-gebu. Q siap dituntun oleh Malaikatku. Hanya cinta yang setia mendukungku.

Rasa....

Perjalanan ini sungguh begitu melelahkan. Capek, penat dan berbagai macam kejenuhan bertahta mengisi luangnya hari bak permadani yang telah pudar. Ku sudah bisa merasakan penyakit yang aku derita, bahkan aku sudah khayalkan itu semua.
Kala petugas medis memvonis bahwa sadisnya penyakit jiwa yang mengiris, ku bisa terima. Karna khayalan ku selalu tidak jauh dari bayang-bayang kematian. Ku sadar semua tinggal bergantung pada masalah waktu.   :)
Cepat atau lambat kan kutemui juga ajalku, jadi kenapa ku harus takut.
Ku sudah terlalu berkutat pada kehidupan yang selalu mengantarkanku tuk terus-menerus tegar. Tapi sekarang ku harus mengungkapkan kenyataan, bahwa aku insan bukan robot yang bisa dijadikan permainan,  dan aku "Menyerah Pada Perjalanan Kehidupan"..
ntah kapan ajal menjelang, ku selalu berusaha tuk mensyukuri nikmat karunia Tuhan atas penggalan masa yang menuntunku bisa menikmati kehidupan dan bisa menyaksikan panorama alam... ya, Terimakasih Tuhan.. :) :'(

Kisah Sedih Pencuci Piring....



Siapa yang paling berbahagia saat pesta pernikahan berlangsung?

Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Meski lelah menderanya namun tetap mampu tersenyum hingga tamu terakhirpun. Berbulan bahkan hitungan tahun sudah mereka menunggu hari bahagia ini. Mungkin orang tua si gadis yang baru saja menuntaskan kewajiban terakhirnya dengan mendapatkan lelaki yang akan menggantikan perannya membimbing putrinya untuk langkah selanjutnya setelah hari pernikahan. Atau bahkan ibu pengantin pria yang terlihat terus menerus sumringah, ia membayangkan akan segera menimang cucu dari putranya. “Aih, pasti segagah kakeknya,” impinya.

Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura kebahagiaan, itu nampak dari senyum, canda, dan keceriaan yang tak hentinya sepanjang mereka berada di pesta. Bagi sanak saudara dan kerabat orang tua kedua mempelai, bisa jadi momentum ini dijadikan ajang silaturahim, kalau perlu rapat keluarga besar pun bisa berlangsung di sela-sela pesta. Sementara teman dan sahabat kedua mempelai menyulap pesta pernikahan itu menjadi reuni yang tak direncanakan. Mungkin kalau sengaja diundang untuk acara reuni tidak ada yang hadir, jadilah reuni satu angkatan berlangsung. Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya di amplop yang tertutup rapat.

Nyaris tidak ada hadirin yang terlihat sedih atau menangis di pesta itu kecuali a ir mata kebahagiaan. Kalau pun ada, mungkin mereka yang sakit hati pria pujaannya tidak menikah dengannya. Atau para pria yang sakit hati lantaran primadona kampungnya dipersunting pria dari luar kampung. Namun tetap saja tak terlihat di pesta itu, mungkin mereka meratap di balik dinding kamarnya sambil memeluk erat gambar pria yang baru saja menikah itu. Dan pria-pria sakit hati itu hanya bisa menggerutu dan menyimpan kecewanya dalam hati ketika harus menyalami dan memberi selamat kepada wanita yang harus mereka relakan menjadi milik pria lain.

Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah sepuluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya. Sedih, pasti.

Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.

Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari doa-doa para tamu yang hadir.

Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.

Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu. Andai pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu.

Sekadar usul untuk Anda yang akan melaksanakan pesta pernikahan, tidak cukup kalimat “Mohon Doa Restu” dan “Selamat Menikmati” yang tertera di dinding pesta, tapi sertakan juga tulisan yang cukup besar “Terima Kasih untuk Tidak Mubazir”.

Mungkinkah?